0821 1257 1589

catatan seorang demonstran part1


Konversi ini gak bisa dibiarkan

Sore itu peliputan membawaku menuju sebuah tempat antrian minyak tanah. Ada sekitar seperempat kilo panjangnya antrian manusia yang menunggu giliran untuk membeli minyak tanah yang hanya dijatah max 5 liter. Kulihat ada seorang nenek diantrian paling belakang. Kuputuskan untuk mewawancarainya sebentar bersama reporter dan kameramenku.


Setelah liputan usai kamipun beristirahat disebuah kedai kopi yang tak jauh dari pusat antrian. Aneh, sepertinya ada yang tak beres karna kulihat sebuah mobil box membawa beberapa galon minyak tanah dari gudang antrian. Tapi, ah..aku sedang tak mau berfikir macam-macam, masalahku saja sudah banyak terlebih setelah diputusin as… karna ibunya gak mau anaknya punya pacar wartawan.

Tapi mataku trbelalak, pemandangan sejauh 20 meter didepanku membuatku ingin mengetahui apa yang terjadi.

Minyak ternyata habis sedangkan antrian tersisa tiga orang termasuk sang nenek yang sedari tadi tergopoh-gopoh mengharapkan setengah liter minyak tanah. Sang tengkulak mengusir mereka, sedangkan mereka sudah seharian penuh berdiri. Kuajak sang nenek tadi untuk makan bersama kami dan sahabatku berinisiatif membantunya.

Malamnya aku tak bisa tidur memikirkan apa sebenarnya yang diinginkan SBY. Besok adalah hari pertama konversi minyak tanah ke gas. Aku merasa tak tenang. Bagaimana nasib sang nenek itu, bagaimana nasib mang kodim sipenjual gorengan, kenapa konversi ini tak dilakukan dengan tahapan yang baik? Kenapa tidak orang menengah keatas dulu yang lebih mengerti bagaimana cara menggunakan kompor gas?

Pagi yang cerah tak membuat badanku cerah karna tidurku tak nyenyak dan diselimuti kekesalan. Kucari jadwal mata kuliahku hari ini tak ketemu. Bodo ah, kutancap motorku menuju gerbang kampus yang megah (fisiknya) dimana caknur, tuti alawiah, alex komang, quraish shihab dll pernah belajar.

Kuparkir motorku lalu keluar gerbang lagi hanya untuk melewati sebuah tempat kost bertemu as… yah, supaya disangka kebetulan lewat, jadi bisa jalan bareng ke kampus. Saat tiba kebetulan as… baru keluar dari gerbang kostnya. “hi as, bareng yuk” kamipun berjalan menuju kampus sampai didekat gerbang dy slau menyempatkan diri untuk memberikan sepotong roti untuk seorang bapak pemulung sampah plastik. Hal itu yang selalu membuatku terkesima dan bermimpi untuk mendapatkannya. Saat itu kebetulan sang bapak sedang makan nasi dengan istrinya. Kamipun ikut hanyut dalam perbincangan mereka berdua.

Bapak : bu, kok ikan asinnya gak ada?

Istri : maaf pak, sekarang ikan asin sudah ikut-ikutan naik. Tapi alhamdulillah kita masih bisa makan walaupun cuma nasi jagung.

as… : memang bapak suka ikan asin yah?

Istri : bapak mah apa aja doyan neng.

Aku stress, aku muak ini gak boleh dibiarin!! SBY gak boleh seenak udelnya nyengsarain orang.

Malamnya kukumpulkan teman-teman seorganisasiku bserta lainnya. Aku membuat forum diskusi tentang dampak konversi ini. Akhirnya semua sepakat bahwa konversi harus dibatalkan. Kuusulkan untuk demonstrasi. Tapi, ternyata sebuah pertanyaan yang menurutku edan muncul dan membuat forum ini bubar.pertanyaan yang timbul adalah siapa yang membiayai demo ini? Karna kami tak mau dirugikan. Gila demo solidaritas kok gak mau rugi, mana yang namanya mahasiswa? Saat itu pula aku menyatakan diri untuk keluar dari organisasi itu.

Besoknya aku datang kesebuah markas organisasi kaum kiri, semoga ajakanku diterima mereka.

Yah, benar saja saat itu pula langsung terhimpun kekuatan untuk mengadakan aksi yang besar tanpa berfikir dari mana dananya. Kamipun mengajak para talang minyak untuk berdiskusi dan mereka sangat antusias. Bahkan mereka siap menghimpun dana.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Respond For " catatan seorang demonstran part1 "