0821 1257 1589

Catatan Seorang Demonstran 2

Ya pak, saya memang wartawan

Hari mulai siang, namun tak ada kepastian munculnya para badut politik dari sebuah kantor yang menjulang megah itu kecuali para barisan polisi antu huru-hara yang sejak kami datang sudah menjegal.

Suasana memanas tatkala seorang pemilik kilang minyak melemparkan sebuah telur busuk pada polisi. Kuhanya berfikir “ah, hanya telur!!”. Tapi ternyata mereka tak terima aspirasinya tak digubris. Mereka maju, diiringi teriakan “hidup rakyat!”

Akupun tak mampu membendung kemarahan ratusan masa.


Tiba-tiba seseorang menarikku dari belakang……………………………..aku diculik.

Sebuah pukulan pada wajah menyadarkanku bahwa nyawaku tengah terancam. Dengan keadaan terikat dan mata tertutup aku tetap dapat mengetahui bukan hanya aku yang diculik, itu tergambar dari suara-suara jeritan mereka.

Tiba-tiba sebuah hantaman keras membentur kepalaku. ”bangun kamu!!”

”saya sudah bangun dari tadi pak” orang itu merogoh isi kantongku sambil sesekali memukul kepalaku. Diambilnya dompet beserta bubuk kimia milikku. ”apa ini?” kudengar dia menjatuhkan cairan kimia itu dan menginjaknya. Dia tak tau itu dapat membakar kakinya. Dan benar saja sabelum terbakar malah dia ambil dan membakar tangannya. Kepalaku ditendang sepatunya yang besar ”bangsat”.
Beberapa menit kemudian datang lagi seseorang yang tiba-tiba menendang kakiku. ”eh kamu, wartawan ya!” ”bukan pak, saya mahasiswa UIN” ”mahasiswa UIN kok kaya kamu” ”saya hanya menyampaikan aspirasi rakyat pak!” ”saya tanya sekali lagi, kamu wartawan bukan? Nama kamu batara ridwan bukan?” ternyata kertu pers milikku ada padanya.”ya pak, saya memang wartawan, tapi saat ini saya abdi rakyat pak.

Respond For " Catatan Seorang Demonstran 2 "