0821 1257 1589

catatan seorang demonstran 3

Bekas luka itu

Senin, 5 Oktober 2008. Jam menunjukkan pukul 09.00. Janji untuk liputan di Cascade Lounge, di lantai dasar Hotel Mulia, pada pukul 08.00, sudah satu jam terlampaui. Namun, temanku tak juga datang. Sedangkan kartu persku tertinggal ditas miliknya. Malam itu hujan sangat deras sekali, akupun sedang berjaga menunggu sesuatu yang akan terjadi. Akupun duduk disebuah kave mini sambil memesan kopi panas. Sesaat kemudian keluarlah dari sebuah mobil sedan hitam berplat merah seorang lelaki setengah baya dengan dua wanita cantik disampingnya.Aneh, sepertinya aku mengenal suara berat lelaki itu.

Akupun berinisiatif untuk cari tahu siapa om-om gila yang sedang mabuk dan digoda wanita itu.

“Ah, om bisa saja! Saya kan belum pernah tidur sama om.”


“Iya om, kita berdua kan masih amatir.”

“Ya sudah, ntar om ajari kalian!”

Aku terus menguping pembicaraan mereka sampai akhirny aku tahu bahwa om itu adalah seorang Abdi Negara.

mataku terperangah ketika melihat bekas luka yang ada ditangan kirinya. Sambil setengah teriak aku berdiri “bekas luka itu”. Mereka memperhatikanku. kini kutahu siapa dia. Dia adalah Pak … yaitu orang yang pernah menculikku beserta sebelas demonstran lainnya beberapa bulan lalu. Dia yang berbicara padaku dengan mataku yang tertutup,dia yang menendang kepalaku, menginjak badanku. Tangannya luka karna tak sengaja mengambil sebuah bubuk kimia yang mudah terbakar karna tergesek sepatunya. Bahkan aku masih dapat melihat bekas luka yang tak mungkin dihasilkan oleh benda apapun termasuk api itu. Ada satu lagi, dia selalu bersendawa setiap beberapa menit.
Sebenarnya ini adalah kesempatanku untuk membalas dendam. Dalam keadaan mabuk aku bisa saja menghajarnya. Banyak alasan untukku terlebih sebagai seorang seorng yg memiliki luka lama. Tapi, lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa-apa. maafkan aku!………………..

Respond For " catatan seorang demonstran 3 "